Tuli dan tunarungu
Menjelang akhir tahun 2016 lalu, tepatnya bulan Oktober, Kementerian dan Kebudayaan Republik Indonesia menerbitkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi V, menggantikan KBBI IV yang telah berusia delapan tahun. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tunarungu artinya rusak pendengaran dan dianggap lebih baik, halus, sopan, dan formal sedangkan Tuli tidak dapat mendengar karena rusak pendengarannya dan terkesan lebih kasar. Namun, secara penulisan, Tuli dengan huruf kapital (T) menurut komunitas Tuli sendiri dipandang lebih sopan dan mereka lebih nyaman dipanggil dengan sapaan Tuli dibandingkan dengan tunarungu. Mengapa? Karena penulisan Tuli dengan Huruf kapital (T) sekaligus sapaan Tuli menunjukkan identitas orang Tuli sebagai sebuah kelompok masyarakat yang mempunyai identitas, memiliki bahasa, dan budayanya tersendiri. Sedangkan tunarungu dianggap sebagai sebuah keharusan untuk mengoptimalkan kemampuan pendengarannya dengan berbagai cara agar menyerupai orang-orang yang dapat mendengar. Kebanyakan orang menganggap bahwa Tuli dan tunarungu memiliki kesamaan makna. Padahal pada kenyataannya kedua istilah tersebut memiliki perbedaan. Mereka menjadikan bahasa isyarat sebagai bahasa ibu. Meskipun demikian, tidak semua orang Tuli memiliki kemampuan berkomunikasi yang sama. Ada yang hanya bisa menggunakan oral saja untuk berkomunikasi, ada yang hanya bisa menggunakan isyarat saja, ada pula yang bisa kedua-duanya, bahkan ada juga yang tidak bisa kedua-duanya (karena mereka tidak pernah sekolah).
Tuli dalam kedokteran dibagi atas 3 jenis:
- Gangguan Dengar Konduktif adalah gangguan dengar yang disebabkan kelainan di telinga bagian luar dan/atau telingabagian tengah, sedangkan saraf pendengarannya masih baik, dapat terjadi pada orang dengan infeksi telinga tengah, infeksi telinga luar atau adanya serumen di liang telinga.
- Gangguan Dengar Saraf atau Sensorineural yaitu gangguan dengar akibat kerusakan sarafpendengaran, meskipun tidak ada gangguan di telinga bagian luar atau tengah.
- Gangguan Dengar Campuran yaitu gangguan yang merupakan campuran kedua jenis gangguan dengar di atas, selain mengalami kelainan di telinga bagian luar dan tengah juga mengalami gangguan pada saraf pendengaran.
Untuk menentukan jenis dan derajat ketulian dapat diperiksa dengan audiometri
Disamping dengan pemeriksaan audiometri, ambang respon seseorang terhadap bunyi dapat juga dilakukan dengan pemeriksaan BERA (Brainstem Evoke Response Audiometry), dapat dilakukan pada pasien yang tidak dapat diajak komunikasi atau anak kecil.
Informasi lainnya yang perlu diketahui ialah Tuli memiliki tingkatan gangguan yang berbeda-beda. Sehingga berikut akan dipaparkan secara singkat klasifikasi gangguan pendengaran antara lain:
- Gangguan pendengaran sangat ringan(27-40 dB),
- Gangguan pendengaran ringan(41-55 dB),
- Gangguan pendengaran sedang(56-70 dB),
- Gangguan pendengaran berat(71-90 dB),
- Gangguan pendengaran ekstrem/tuli(di atas 91 dB).
BUDAYA TULI
Setiap kelompok masyarakat memiliki budaya sendiri begitu pula dengan orang Tuli sebagai kelompok minoritas juga memiliki budaya yang berbeda dengan orang dengar (non Tuli). Namun, walaupun sebagai minoritas mereka juga memiliki unsur-unsur budaya yang sama dengan mayoritas (non Tuli) seperti: bahasa, sejarah, nilai, tata perilaku, sistem kepercayaan, tradisi, sistem kemasyarakatan, perjuangan dan kesenian. Dalam kelompok masyarakat Tuli, budaya yang paling menonjol adalah bahasa. Bahasa yang digunakan oleh Tuli adalah Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) yang merupakan bahasa asli (Bahasa Ibu) mereka. BISINDO juga memiliki ragam pada tiap daerah seperti halnya bahasa daerah. Misalnya saja Bahasa Isyarat Yogyakarta dan Bahasa Isyarat Magelang terdapat perbedaan. Kendati demikian, mereka tetap bisa berkomunikasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bahasa isyarat adalah bahasa yang tidak menggunakan bunyi ucapan manusia atau tulisan dalam sistem perlambangannya; 2 Ling bahasa yang menggunakan isyarat (gerakan tangan, kepala, badan dan sebagainya).
Asal-usul budaya dalam kehidupan masyarakat tentunya tidak terlepas dari sejarah mengapa hal tersebut ada dan dapat terjadi. Sama halnya dengan budaya Tuli di Indonesia. Sejarah Tuli selalu melekat dan memperkenalkan budaya Tuli itu sendiri. Sejarah Tuli juga dituangkan ke dalam bentuk sastra seperti: puisi yang tercipta dari hasil refleksi pengalaman Tuli, cerita penggolong (classifier), cerita menggunakan alfhabet dan angka dalam bahasa isyarat, dan narasi. Tradisi dalam kelompok Tuli hampir sama dengan kelompok dengar yaitu : kumpul-kumpul dari yang muda hingga yang tua tetap masih sering berkumpul, kegiatan olahraga, pencerita, seni dll. Penjelasan mengenai perbedaan budaya Tuli dengan budaya dengar (non-Tuli) ditunjukkan pada tabel berikut ini:
Nice dev👌
BalasHapusBermanfaat sekali
BalasHapusMakasih infonya
BalasHapusilmu nya sangat bermanfaat dev ��
BalasHapusBermanfaat artikelnya
BalasHapusMakasih infonya kak
BalasHapusBermanfaat sekali 👍
BalasHapusMantul
BalasHapusMakasih ka info sangat membantu
BalasHapusMantappp lanjutkan qaqa😇
BalasHapusNice qaqa
BalasHapusGeprek
BalasHapus